Analisis Kepemimpinan dan Inovasi Lembaga Pendidikan

 Analisis Artikel

“KEPEMIMPINAN DAN INOVASI LEMBAGA PENDIDIKAN “

(Pengalaman Pondok Gontor VII Putra Sulawesi Tenggara)


Artikel berjudul “Kepeminpinan dan Inovasi Lembaga Pendidikan” ini menceritakan tentang pengalaman pondok gontor VII putra Sulawesi Tenggara. Sebagaimana lazimnya dalam tradisi pesantren secara umum,pengelolaan pondok dengan memperhatikan kecenderungan yang muncul di internal maupun pada lingkungan eksternal. Hal ini dirasakan sendiri oleh sang penulis,Syahrul Marham yang berkesempatan menjelajah pondok gontor VII putra ini.

Artikel ini menambah pengetahuan pembacanya,karena isisnya yang mengandung banyak ilmu pengetahuan tentang kepemimpianan dan inovasi. Walaupun sebagai pesantren modern (khalaf), Pesantren Gontor VII Kendari juga berupaya melakukan pengelolaan pondok dengan memperhatikan kecenderungan yang muncul di internal maupun pada lingkungan eksternal. Sejak didirikan pada 24 Rabiul Tsani 1423 / 5 Juli 2002, pondok Gontor VII Kendari telah menjadi magnet pendidikan di Sulawesi Tenggara, dimana pada tahun ajaran 2013 jumlah santri telah mencapai 1500 orang. Dalam sambutan pelaksanaan shalat idul adha, pimpinan pondok Gontor VII menyatakan bahwa “Gontor VII Kendari pada tahun depan siap menerima santri sebanyak 1500 orang, sesuai dengan sarana-prasarana dan sumber daya yang telah mengalami peningkatan”3. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pesat dalam pengelolaan pendidikan di pondok modern Gontor VII Putra Kendari.   

Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh pondok modern gontor, seperti: kemampuan dua bahasa (bilingual), kewirausahaan (entrepreneurship), kemandirian keuangan (Chizanah), jaringan antar lembaga (nerworking), merupakan daya tarik bagi masyarakat Sulawesi Tenggara dan sekitarnya untuk menitipkan anakanak mereka pada lembaga tersebut. Hal-hal tersebut merupakan fakta-fakta bahwa inovasi telah menjadi budaya turun-temurun dalam pengelolaan pondok Gontor VII.  

Dalam tradisi pesantren berpusat pada Kiay, demikian juga dengan kepemimpinan pada Pondok Gontor VII Putra Kendari. Walau demikian, figur Kiay tidak kemudian menjadi seorang yang diktator ataupun otoriter. Hal ini disebabkan praktek kepemimpinannya berada didalam kerangka nilai-nilai dasar dan luhur, yang menjadi pedoman dalam pengelolaan pondok. Dalam konteks ini, penghargaan terhadap eksistensi komponen-komponen di internal pondok mendapat posisi penting dalam praktek kepemimpinan Pondok Gontor VII Kendari. Karena kepemimpinan Pondok Modern Gontor itu harus memenuhi 14 (empat belas) kualifikasi yaitu iklas,selalu mengambil insisatif,mampu membuat jaringan kerja dan memanfaatkannya,dapat dipercaya,bekerja keras dan bersungguh- sungguh , menguasai masalah dan dapat menyelesaikannya, memiliki intregritas tinggi, memiliki nyali tinggi dan tidak takut resiko, jujur dan terbuka,sipa berkorban ,tegas, cerdas dalam melihat mendengar,mengevaluasi, menilai,memutuskan,dan menyelesaikan,mampu berkomunikasi,serta baik dalam bermuamalah ma’a Allah dan mu’amalah ma’a an-nas. 

Seperti halnya dengan KH. Heru Wahyudi, yang sejak awal hingga saat ini menjadi pimpinan Pondok Gontor VII Putra Kendari, tentu telah teruji dalam menggunakan kekuatan dan pengaruhnya selama 12 tahun memimpin. Beliau, mengungkap ada beberapa kunci keberhasilan selama memimpin pondok, yakni beliau menerapkan kepemimpinan panca jiwa, dukungan dari Ustadz, Pembina Santri, dan Santri, dan menguatkan karakter salah satunya adalah dengan menanamkan dan menerapkan motto pondok.

Selain dalam hal kepemimpinan pendok pesantren ini juga memiliki beberapa inovasi. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Kates dan Galbraith, mengemukakan bahwa spectrum inovasi mencakup dua hal, yakni: inovasi program (sustaining innovation), dan inovasi terobosan (breakthrough innovation)16. Inovasi program mencakup: perbaikan produk, perluasan lini, dan inovasi generasi berikutnya. Sedangkan inovasi terobosan mencakup: produk baru, teknologi baru, dan bisnis baru.

Inovasi  yang dilakukan Pondok Modern Gontor VII Putra Kendari yaitu kemampuan bahasa yang fokus pada penguasaan dua bahasa atau bilingual (Arab-Inggris),kewirausahaan (entrepreneurship), kemandirian keuangan (Chizanah),dan  jaringan antar lembaga (nerworking).

Hingga saat ini, jaringan pondok tidak hanya di tingkat lokal ataupun nasional, tetapi juga internasional. Menurut penuturan KH. Heru Wahyudi, pada saat perguruan tinggi dalam negeri tidak menerima alumni Gontor untuk belajar karena tidak memiliki ijazah, beberapa perguruan tinggi luar negeri menerima dengan terbuka alumni Gontor tersebut

Dilihat dari judulnya “Kepemimpinan Dan Inovasi Lembaga Pendidikan (Pengalaman Pondok Gontor Vii Putra Sulawesi Tenggara)”seolah-olah menghimbau pembaca untuk melakukan praktek kepemimpinan dengan menanamkan nilai-nilai dan luhur. Artikel ini menceritakan keunggulan daripada pondok pesantren gontor VII putra dengan secara detail,demikian pula dengan pengetahuan yang dimiliki para santri pondok pesantren gontor putra. Namun,dalam artikel tersebut tidak disebutkan bahwa pondok pesantren gontor memiliki kekurangan,sehingga pondok pesantren ini seakan-akan tidak perlu dibenahi. 

Solusi yang ditawarkan dalam artikel hanya mencakup klarifikasi dari para kyai. Akan lebih baik lagi apabila ditambahkan solusi yang melibatkan semua orang,termasuk para santri supaya turun ambil bagian dalam kepemimpinan dan inovasi pendidikan pada pondok gontor putra. Serta tidak disertakan alamat lengkap yang bisa dikunjungi sehingga pembaca bisa mengetahui lebih lanjut bagaimana cara kepemimpinan yang ada di pondok pesantren gontor VII putra